Spread the love

Mengundang Miracle Dalam Kehidupan

Sobat. Alhamdulillah. Setelah seharian kemarin badan demam dan asam lambung meningkat. Selasa malam bisa keringatan dan ngisi life coach Kalam. Alhamdulillah pagi ini bisa ngisi up grading temen-temen BMH perwakilan Jawa Timur di Java Paragon Hotel Jl. Mayjend. Sungkono Surabaya.

Materi pokok yang saya sampaikan bangun pondasi Iman untuk masuk di Goa Keajaiban lakukan amalan para Nabi dan Rasul, gerakan tangan ghaib dan jadilah orang yang ASIK. Insya Allah artikel kali ini akan membahas hal di atas.

Sobat. Meningkatkan kedekatan hubungan dengan Allah SWT. Saat seseorang memiliki segalanya, tanpa kedekatan dengan Allah, semuanya itu akan membuahkan kesombongan. Melalui kedekatan hubungan kita dengan Allah, Dia akan menolong dan menyempurnakan kita. Kehidupan yang paling sempurna adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak dan rencana Allah SWT.

Sobat. Bumi yang berguncang bisa jadi akibat hati yang tak tenang dan pudarnya kasih sayang. Mari istirja’ , istighfar dan bertobat….. lalu, bersatu beristighosah dengan tidak saling menghujat.

” Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” ( HR. Thabrani, Shahih )

Sobat. Ketika sedang menghadapi persoalan, bertemulah dengan banyak orang! Amati, diskusi , ngobrol-ngobrol , sharing dengan sekelilingmu. Mungkin Allah akan membukakan hatimu untuk senantiasa bersyukur, atau kamu bisa bertemu orang yang dapat membantu untuk menyelesaikan persoalanmu.

Sobat. Semua adalah kehendak Allah SWT yang mempertemukanmu dengan orang yang tepat, menginspirasimu dengan solusi atau membuka hatimu dan memberi hidayah. Intinya SILATURAHIM, BANGUN RELASI dan TEMUKAN SOLUSI.

Sobat. Dalam mengejar dan meraih keajaiban, ternyata ada polanya yaitu dengan masuk ke dalam goa. Seluruh keajaiban itu terjadi di dalamnya. Semua Nabi, sebelum diangkat menjadi Nabi atau Rasul, selalu masuk dalam proses Goa Keajaiban yang berbeda-beda. Goa Keajaiban Nabi nuh adalah  sibuk membangun kapal di daratan atau pegunungan sesuai perintah Allah, Goa Nabi Musa  pergi ke bukit Thursina, Goa Keajaiban Nabi Yusuf masuk ke dalam sumur , jadi budak, dan di penjara. Goa keajaiban Nabi Yunus masuk ke perut ikan Dzun Nun ( Ikan Paus )

Sobat. Goa keajaiban Nabi Ibrahim adalah saat dia dibakar raja Namrudz. Goa keajaiban ibunda Maryam adalah mihrab. Dan Baginda Rasulullah SAW di Jabal nur, Gua Hira dan Goa Tsur. Polannya sama setelah masuk dalam gua , barulah terjadi keajaiban.

Sobat, Ini bukan kebetulan, namun kurikulum bagi umat Islam untuk mengejar dan mendapatkan miracle. Maka Allah khususkan satu surat  yang bermakna gua yakni Al-Kahfi. Surat ini DISUNNAHKAN ntuk dibaca  setiap hari jumat yang mulia.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Kahfi ayat 16 :

وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا   (١٦)

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi (18) : 16 )

Sobat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa percakapan di antara mereka terus berlanjut, sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, “Bilamana kamu menjauhkan diri dari kaum dan kampung halamanmu lahir dan batin, menolak untuk mengikuti adat-istiadat mereka, dan tidak mau menyembah selain Allah, sehingga menimbulkan kemarahan mereka terhadap kamu, maka seharusnya kamu mencari tempat berlindung seperti gua.”

            “Di tempat tersebut kamu dapat melakukan ibadah dengan tekun dan khusyuk serta terhindar dari gangguan kaummu. Bilamana kamu sudah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, serta memohon pemeliharaan-Nya, maka Dia tentu akan mencurahkan rahmat-Nya kepadamu. Kamu tidak akan mati kelaparan atau kehausan dalam gua itu. Allah swt akan memberi jalan keluar kepadamu dalam mengatasi kesukaran makan dan minum ataupun lainnya. Allah akan melapangkan jalan beribadah dengan sempurna kepada-Nya sehingga kamu bisa merasakan kelezatan ibadah yang melebihi kelezatan lainnya.” Demikian isi percakapan mereka. Apa yang mereka ucapkan itu lahir dari keyakinan dan harapan mereka akan anugerah Allah dan berkat kepasrahan dan keimanan mereka yang sempurna kepada-Nya. Allah swt telah menggerakkan hati para pemuda itu untuk menjadi orang-orang yang saleh, penghuni gua. Kisah mereka akhirnya selalu dikenang dalam sejarah umat beragama. Demikian sifat para pemuda itu, selamanya hati mereka lebih suci dan lebih cinta kepada kebenaran, yaitu sifat yang amat baik yang diperlukan bagi seseorang pemimpin.

Ibnu ‘Abbas berkata:

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia seorang pemuda, dan tiada diberikan ilmu kepada seorang alim, kecuali dia pemuda.

Kemudian beliau membaca potongan ayat-ayat tersebut sebagai berikut:

Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (al-Anbiya/21: 60)

Dan firman Allah swt:

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya. (al-Kahf/18: 60)

Dan firman Allah swt:

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. (al-Kahf/18: 13)

Sobat. Ayat ini menunjukkan ketabahan hidup para pemuda Ashhabul Kahf ketika menyepi di dalam gua karena menyembunyikan agamanya. Al-Gazali, dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, menolak menggunakan ayat ini untuk dijadikan dalil bagi keutamaan hidup uzlah. Beliau berkata, “Ashhabul Kahf tidak mengasingkan diri mereka sendiri antara satu dengan yang lain. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman. Mereka mengasingkan diri dari orang-orang kafir.” Jadi wajarlah kalau mereka ber-uzlah agar terpelihara dari penyiksaan orang-orang kafir dan raja yang hendak membunuh mereka. Hidup menyepi dalam arti mengasingkan diri dari kejahatan dan kebatilan yang tidak dapat diperbaiki atau mereka tidak sanggup memperbaikinya, maka uzlah semacam ini dibenarkan. As-Suyuti dalam kitabnya Al-Iklil berpendapat bahwa dari ayat ini dapat dipahami bahwa uzlah, mengasingkan diri, lari dari kezaliman, dan tinggal dalam gua disyariatkan ketika situasi beragama tidak kondusif atau rusak. Pendapat beliau ini perlu penjelasan karena masih kabur. Zaman manakah yang bersih dari kerusakan? Sebenarnya yang dapat dipahami dari ayat ini ialah para pemuda itu mengasingkan diri karena adanya pemerkosaan terhadap hak hidup beragama.

            Sobat. Hidup uzlah karena frustasi dan keputusasaan dalam menghadapi kenyataan hidup tidak dibenarkan oleh agama. Untuk memahami ayat ini, harus diperhatikan suasana di kala terjadinya peristiwa uzlah-nya pemuda itu. Mereka menyepi dengan melarikan diri ke dalam gua karena akan dibunuh oleh raja yang sewenang-wenang. Suasana saat itu juga tidak mendukung untuk berjuang melawan kesewenang-wenangan raja, dan memperlihatkan keimanan mereka.

            Sobat. Di masa permulaan Islam, Nabi menyuruh sahabat-sahabatnya berhijrah ke negeri Habsyah, kemudian ke Madinah, dan beliau sendiri lalu juga hijrah ke sana disebabkan oleh keganasan kaum musyrikin Quraisy, sedang kaum Muslimin tidak dapat berbuat apa-apa menghadapinya, karena masih lemah. Bahkan, bagi Nabi saw khususnya, mereka telah bersiap untuk membunuh-nya. Mereka mengepung rumah Nabi di malam hari untuk melaksanakan rencana pembunuhan itu.

            Karena kaum musyrikin telah mengadakan persekongkolan untuk membunuh Nabi, maka Allah memerintahkan agar Nabi hijrah. Atas dasar perintah itulah, Nabi hijrah. Jadi, bukan karena lari dari medan peperangan, menyendiri atau uzlah, dan sebagainya. Hidup uzlah dalam arti mengasingkan diri dari kemewahan hidup dan perbudakan harta dan hawa nafsu, lalu hidup sederhana di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana yang diperlihatkan sahabat Nabi Abu dzar Al-Gifari, tidak tercela, bahkan dibenarkan oleh agama Islam. Ibnu Katsir berkata, “Abu dzar berpendapat bahwa tidaklah patut seorang muslim memiliki harta melebihi dari persediaan makanannya sehari semalam, atau dari sesuatu yang diperguna-kannya untuk berperang, atau dari suatu yang disediakan untuk tamu. Beliau berpegang kepada dhahir ayat:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (at-Taubah/9: 34)

            Abu dzar hidup dalam kesederhanaan karena tidak mau terlibat dalam kehidupan mewah yang mulai merebak pada zaman khalifah Usman r.a. Demikian contoh kehidupan uzlah yang terdapat di kalangan sahabat Rasulullah saw”.

Sobat. Goa Keajaiban pada hakikatnya adalah rendah hati di hadapan manusia dan rendah diri di hadapan Allah SWT. Goa keajaiban adalah satu cara  untuk mendekatkan kepada Allah. Ketika kita dipaksa  masuk ke dalam Goa  yang berupa sebuah  persoalan  dan di situ kita menyebut asma Allah dengan penuh syahdu, maka bersyukurlah karena bisa jadi itu adalah sarana untuk menarik kita menuju Allah, bukan malah menjauh dari-Nya.

Sobat. Bentuk-bentuk gua yang disyariatkan adalah : 1. Majelis ilmu, pengajian, Kajian Islam dan sebagainya. 2. Semua sholat adalah gua keajaiban, terutama sholat malam. 3. Beriktikaf di masjid. 4. Asyik masyuk  dengan kitab suci Al-Quran. 5. Melakukan ibadah umrah dan Haji. 6. Tempat-tempat  yang mustajab  untuk berdoa seperti ; di Raudhah, multazam dan sebagainya. 7. Waktu-waktu atau kondisi  yang mustajab  untuk berdoa seperti;  antara dua khutbah jumat, antara adzan dan iqomah, saat sahur, saat didzalimi, dan lain-lain.

Sobat. Ada empat hal yang menjadi sebab datangnya musibah. Rasulullah SAW bersabda, Ada empat perkara yang barangsiapa memilikinya, Allah akan membangunkan rumah  di surga dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Mahaagung: Jika pegangan teguhnya Laa ilaha illallah, Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan Alhamdulillah, jika berbuat salah/dosa dia mengucapkan Astaghfirullah, jika ditimpa musibah dia mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Sobat. Maka berhati-hatilah, musibah dan adzab  yang  makin  dahsyat  justru diundang  dengan kesombongan, putus asa, berbuat maksiat dan syirik. Atau ada empat poin  penyebab musibah yaitu :

  1. Syirik yang tidak ditaubati dengan ikhlas dan mengucapkan dua kalimat syahadat.
  2. Maksiat yang tidak ditaubati dengan dengan istighfar.
  3. Anugerah Allah yang tidak disyukuri dengan hamdalah.
  4. Musibah yang tidak disabari dengan istirja’ : Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Sobat. Bangun terus kekuatan Iman kepada Allah SWT untuk memasuki Goa Keajaiban dengan melakukan amalan para Nabi dan Rasul ketika berada di dalam Goa Keajaiban yakni terus menjaga keimanan dan meng-esakan Allah, Memuji Allah, Istiqomah berdakwah di jalan Allah, Sabar dan teguh memegang prinsip agama, mengakui kesalahan dan taubat segera memohon ampun kepada-Nya. Lakukan amalan yang menggerakan tangan ghaib dengan syarat yang amalan yang fardhu atau wajib telah ditunaikan dan lengkapi dengan amalan sunnah nafilah : Sedekah, Sholat tahajud, memperbanyak silaturahim, sholat dhuha dan memperbanyak Dzikir kepada Allah.  Jadilah orang yang ASIK yakni ; Antusiasme, Strategi diri, Inisiatif  dan Kolaborasi.

( DR Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan The Power of Spirituality. CEO Educoach. Dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo. Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur )


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *